Pemutusan kontrak merupakan salah satu sanksi yang dapat diberikan baik oleh PPK kepada Penyedia karena kesalahan yang dilakukan Penyedia, maupun sebaliknya Penyedia kepada PPK karena kesalahan PPK. Pada artikel ini saya akan membahas pemutusan kontrak yang dilakukan oleh PPK karena kesalahan Penyedia.
Dalam Per LKPP 9/2018, Pejabat Penandatangan Kontrak melakukan pemutusan Kontrak apabila:
- Penyedia terbukti melakukan KKN, kecurangan dan/atau pemalsuan dalam proses pengadaan yang diputuskan oleh Instansi yang berwenang.
- Pengaduan tentang penyimpangan prosedur, dugaan KKN dan/atau pelanggaran persaingan sehat dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa dinyatakan benar oleh Instansi yang berwenang;
- Penyedia berada dalam keadaan pailit;
- Penyedia terbukti dikenakan Sanksi Daftar Hitam sebelum penandatangan Kontrak;
- Penyedia gagal memperbaiki kinerja setelah mendapat Surat Peringatan sebanyak 3 (tiga) kali;
- Penyedia tidak mempertahankan berlakunya Jaminan Pelaksanaan;
- Penyedia lalai/cidera janji dalam melaksanakan kewajibannya dan tidak memperbaiki kelalaiannya dalam jangka waktu yang telah ditetapkan;
- berdasarkan penelitian Pejabat Penandatangan Kontrak, Penyedia tidak akan mampu menyelesaikan keseluruhan pekerjaan walaupun diberikan kesempatan sampai dengan 50 (lima puluh) hari kalender sejak masa berakhirnya pelaksanaan pekerjaan untuk menyelesaikan pekerjaan;
- setelah diberikan kesempatan menyelesaikan pekerjaan sampai dengan 50 (lima puluh) hari kalender sejak masa berakhirnya pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Barang/Jasa tidak dapat menyelesaikan pekerjaan; atau
- Penyedia menghentikan pekerjaan selama waktu yang ditentukan dalam Kontrak dan penghentian ini tidak tercantum dalam program mutu serta tanpa persetujuan pengawas pekerjaan.
Dalam hal pemutusan Kontrak dilakukan karena kesalahan Penyedia:
a. Jaminan Pelaksanaan dicairkan;
b. Sisa Uang Muka harus dilunasi oleh Penyedia atau Jaminan Uang Muka dicairkan (apabila diberikan); dan
c. Penyedia dikenakan sanksi Daftar Hitam.
Dapatkah dikenakan Sanksi Pemutusan Kontrak sebagian?
Pertanyaan ini muncul karena saya sendiri sering menemukan dalam banyak permasalahan kontrak, dimana PPK hanya menerapkan sebagian sanksi pemutusan kontrak, misalnya Penyedia hanya di-PHK saja, tapi tidak disita jaminannya (baik pelaksanaan maupun jaminan uang muka apabila diberikan uang muka) dan tidak diusulkan dan/atau dikenakan sanksi daftar hitam. Atau Penyedia setelah di-PHK, jaminannya disita namun tidak diusulkan dan dikenakan sanksi daftar hitam.
Menurut saya, Sanski PHK harus diikuti dengan sanksi lainnya, baik pencairan jaminan maupun sanksi daftar hitam, karena klausul pengenaan sanksi tersebut sifatnya kumulatif bukan alternatif. Jadi, sanksi yang dikenakan harus penuh tidak bisa hanya sebagian saja.
Pengenaan sanksi penuh dalam pemutusan kontrak ini diharapkan dapat memutus mata rantai lolosnya penyedia-penyedia “nakal” atau berkinerja buruk (karena tidak dikenakan sanksi daftar hitam) untuk mengikuti tender pengadaan barang/jasa di seluruh Indonesia.